Bagian dari perang kemerdekaan
SoekarnodanMohammad Hattasedang memproklamasikan kemerdekaanTanggal17 Agustus 1945—27 Desember 1949
Lokasi
Indonesia
Hasil
Kemenangan militer Belanda
Kemenangan politik Indonesia*.Indonesia mendapatkan kemerdekaannya*.Belanda mengakuiRepublik Indonesia SerikatdalamKonferensi Meja BundarCasus belliProklamasi Kemerdekaan IndonesiaJepang menyerah diPerang Dunia IIPihak yang terlibat Indonesia*.PDRI Jepang(sampai 1946) Belanda(dari 1946)*.Hindia Belanda*.KNIL*.NICA*.Negara Federal Otonom(disatukan denganRepublik Indonesiapada tahun 1949)*.Indonesia Timur*.Dayak Besar*.Pasundan*.Gerakan Minahasa twaalfde provincie van Nederlands*.Kesultanan Pontianak Britania Raya(sampai 1946)*.Australia*.India BritaniaKomandanSoekarnoMohammad HattaSudirmanSri Sultan Hamengkubuwana IXSyafruddin PrawiranegaraSoehartoSutomoSimon SpoorHubertus van MookWillem FrankenClement AttleeSirPhilip ChristisonTjokorda SukawatiSultan Hamid IIKekuatanTentara Republik:183.000Pemuda:Perkiraan 60.000Relawan Mantan TentaraKekaisaran Jepang:3.000British Indian Army defectors:600Tentara Kerajaan Belanda:20.000 (awal) - 180.000 (puncak)Tentara Kerajaan Hindia Belanda:60,000Britania:30.000+ (puncak)[1]Korban45.000 sampai 100.000 kematian orang Indonesia bersenjata1.200 kematian militer Britania[2]3.144 kematian Tentara Kerajaan Hindia Belanda[3]3.084 kematian Tentara Kerajaan Belanda[3]25.000 sampai 100.000 kematian sipil[4]Bagian dariseriartikel mengenaiSejarah IndonesiaLihatpula:Gariswaktu sejarah IndonesiaSejarah NusantaraPrasejarahKerajaanHindu-BuddhaSalakanagara(130-362)Kutai(abad ke-4)Tarumanagara(358–669)Kendan(536–612)Galuh(612-1528)Kalingga(abad ke-6 sampai ke-7)Sriwijaya(abad ke-7 sampai ke-13)Sailendra(abad ke-8 sampai ke-9)KerajaanMedang(752–1006)KerajaanKahuripan(1006–1045)KerajaanSunda(932–1579)Kediri(1045–1221)Dharmasraya(abad ke-12 sampai ke-14)Singhasari(1222–1292)Majapahit(1293–1500)Malayapura(abad ke-14 sampai ke-15)KerajaanIslamPenyebaran Islam(1200-1600)Kesultanan Samudera Pasai(1267-1521)Kesultanan Ternate(1257–sekarang)KerajaanPagaruyung(1500-1825)Kesultanan Malaka(1400–1511)KerajaanInderapura(1500-1792)Kesultanan Demak(1475–1548)Kesultanan Kalinyamat(1527–1599)Kesultanan Aceh(1496–1903)Kesultanan Banjar(1520–1860)Kesultanan Banten(1527–1813)Kesultanan Cirebon(1430 - 1666)KerajaanTayan(Abad Ke-15-sekarang)Kesultanan Mataram(1588—1681)Kesultanan Palembang(1659-1823)Kesultanan Siak(1723-1945)Kesultanan Pelalawan(1725-1946)KerajaanKristenKerajaanLarantuka(1600-1904)Kolonialisme bangsa EropaPortugis(1512–1850)VOC(1602-1800)Belanda(1800–1942)Kemunculan IndonesiaKebangkitan Nasional(1899-1942)Pendudukan Jepang(1942–1945)Revolusi nasional(1945–1950)IndonesiaMerdekaOrde Lama(1950–1959)DemokrasiTerpimpin(1959–1965)MasaTransisi(1965–1966)Orde Baru(1966–1998)Era Reformasi(1998–sekarang)lihatbicarasuntingSejarahIndonesiaselama1945—1949dimulai denganmasuknyaSekutudiboncengi olehBelanda(NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahanJepang, dan diakhiri denganpenyerahan kedaulatan kepada Indonesiapada tanggal27 Desember1949. Terdapat banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisikabinet,Aksi PolisionilolehBelanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya.1945Kembalinya Belanda bersama SekutuLatar belakang terjadinya kemerdekaanSesuai denganperjanjian Winapada tahun1942,negara-negara sekutubersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini didudukiJepangpada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya.Menjelang akhirperang, tahun1945, sebagian wilayahIndonesiatelah dikuasai oleh tentarasekutu. Satuan tentaraAustraliatelah mendaratkan pasukannya diMakasardanBanjarmasin, sedangkanBalikpapantelah diduduki olehAustraliasebelumJepangmenyatakan menyerah kalah. SementaraPulau MorotaidanIrian Baratbersama-sama dikuasai oleh satuan tentaraAustraliadanAmerika Serikatdi bawah pimpinan JenderalDouglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).Setelah perang usai, tentaraAustraliabertanggung jawab terhadapKalimantandan Indonesia bagian Timur,Amerika SerikatmenguasaiFilipinadan tentaraInggrisdalam bentuk komandoSEAC(South East Asia Command) bertanggung jawab atasIndia,Burma,Srilanka,Malaya,Sumatra,Jawadan Indocina. SEAC dengan panglimaLord Mountbattensebagai Komando Tertinggi Sekutu diAsia Tenggarabertugas melucuti bala tenteraJepangdan mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan warga sipil sekutu (Recovered Allied Prisoners of War and Internees/RAPWI).Mendaratnya Belanda diwakili NICABerdasarkanCivil Affairs Agreement, pada23 Agustus1945Inggris bersama tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh.15 September1945, tentara Inggris selaku wakil Sekutu tiba diJakarta, dengan didampingiDr. Charles van der Plas, wakil Belanda padaSekutu. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengiNICA(Netherland Indies Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda)yang dipimpin olehDr. Hubertus J van Mook, ia dipersiapkan untuk membuka perundingan atas dasar pidato siaran radioRatu Wilhelminatahun1942(statkundige conceptiatau konsepsi kenegaraan), tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara denganSoekarnoyang dianggapnya telah bekerja sama denganJepang. Pidato Ratu Wilheminaitu menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran yang di antara anggotanya adalah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda, di bawah pimpinan Ratu Belanda.Pertempuran melawan Sekutu dan NICATerdapat berbagai pertempuran yang terjadi pada saat masuknya Sekutu danNICAke Indonesia, yang saat itu barumenyatakan kemerdekaannya. Pertempuran yang terjadi di antaranya adalah:1.Peristiwa 10 November, di daerahSurabayadan sekitarnya.2.Palagan Ambarawa, di daerahAmbarawa,Semarangdan sekitarnya.3.Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputiJawa TengahdanJawa Timur4.Bandung Lautan Api, di daerahBandungdan sekitarnya.5.Pertempuran Medan Area, di daerahMedandan sekitarnya.6.Pertempuran Margarana, diBali7.Serangan Umum 1 Maret 1949, diYogyakarta8.Pertempuran Lima Hari Lima Malam, diPalembang9.Pertempuran Lima Hari, diSemarangPerubahan sistem pemerintahanPernyataanvan Mookuntuk tidak berunding denganSoekarnoadalah salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan daripresidensialmenjadiparlementer. Gelagat ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatanganSekutu, tanggal14 November1945,Soekarnosebagai kepalapemerintahan republikdiganti olehSutan Sjahriryang seorangsosialisdianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatik, bertepatan dengan naik daunnya partai sosialis diBelanda.Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (darisistem Presidensiilmenjadisistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Dalam pandanganInggrisdanBelanda,Sutan Sjahrirdinilai sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama pemerintahan Jepang.Ketika Syahrir mengumumkankabinetnya,15 November1945, LetnanGubernur Jendralvan Mookmengirim kawat kepada Menteri Urusan Tanah Jajahan (Minister of Overseas Territories, Overzeese Gebiedsdelen),J.H.A. Logemann, yang berkantor diDen Haag: "Mereka sendiri [Sjahrir dan Kabinetnya]dan bukan Soekarno yang bertanggung jawab atas jalannya keadaan". Logemann sendiri berbicara pada siaran radioBBCtanggal28 November1945, "Mereka bukan kolaborator seperti Soekarno, presiden mereka, kita tidak akan pernah dapat berurusan dengan Dr Soekarno, kita akan berunding dengan Sjahrir". Tanggal6 Maret1946kepada van Mook, Logemann bahkan menulis bahwa Soekarno adalahpersona non grata.Pihak Republik Indonesia memiliki alasan politis untuk mengubah sistem pemerintahan dari Presidensiil menjadi Parlementer, karena seminggu sebelum perubahan pemerintahan itu,Den Haagmengumumkan dasar rencananya. Ir Soekarno menolak hal ini, sebaliknyaSjahrirmengumumkan pada tanggal4 Desember1945bahwa pemerintahnya menerima tawaran ini dengan syarat pengakuanBelandaatas Republik Indonesia.1946Ibukota pindah ke YogyakartaMenjelang berakhirnya tahun 1945 situasi keamananibukotaJakarta(saat itu masih disebutBatavia) makin memburuk dengan terjadinya saling serang antara kelompok pro-kemerdekaan dan kelompok pro-Belanda. Ketua Komisi Nasional Jakarta, Mr.Mohammad Roemmendapat serangan fisik. Demikianpula, Perdana Menteri Syahrir dan Menteri Penerangan Mr.Amir Sjarifuddinjuga nyaris dibunuh simpatisan Belanda (NICA)[5]. Karena itu pada tanggal1 Januari1946Presiden Soekarno memberikan perintah rahasia kepadaBalai Yasa Manggaraiuntuk segera menyiapkan rangkaian kereta api demi menyelamatkan para petinggi negara. Pada tanggal 3 Januari 1946 diputuskan bahwa PresidenSoekarnodan Wakil PresidenHattabeserta beberapa menteri/staf dan keluarganya meninggalkan Jakarta dan pindah keYogyakartasekaligus pula memindahkanibukota; meninggalkan Perdana MenteriSutan Syahrirdan kelompok yang bernegosiasi denganBelandadiJakarta[6]. Perpindahan dilakukan menggunakan kereta api berjadwal khusus, sehingga disebut sebagai KLB (Kereta Luar Biasa).Perjalanan KLB ini menggunakanlokomotif uapnomor C2849 bertipe C28 buatan pabrik Henschel, Jerman, dengan rangkaian kereta inspeksi yang biasa digunakan untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang disediakan oleh Djawatan Kereta Api (DKA)[7][5]. Rangakaian terdiri dari delapan kereta, mencakup satu kereta bagasi, dua kereta penumpang kelas 1 dan 2, satu kereta makan, satu kereta tidur kelas 1, satu kereta tidur kelas 2, satu kereta inspeksi untuk presiden, dan satu kereta inspeksi untuk wakil presiden[5]. Masinis adalah Kusen, juruapi (stoker) Murtado dan Suad, serta pelayan KA Sapei[5]. Perjalanan diawali sore hari, dengan KLBrangsirdariStasiun Manggaraimenuju Halte Pegangsaan (sekarang sudah dibongkar) dan kereta api berhenti tepat di belakang kediaman resmipresiden di Jalan Pegangsaan Timur 56[5]. Setelah lima belas menit embarkasi, KLB berangkat ke StasiunManggarai dan memasuki jalur 6. Kereta api melanjutkan perjalanan ke Jatinegara dengan kecepatan 25 km per jam. KLB berhenti diStasiun Jatinegaramenunggu signal aman dariStasiun Klender. Menjelang pukul 19 KLB melanjutkan perjalanan dengan lampu dimatikan dan kecepatan lambat agar tidak menarik perhatian pencegat kereta api yang marak di wilayah itu[5]. Barikade gerbong kosong juga diletakkan untuk menutupi jalurrel dari jalan raya yang sejajar di sebelahnya.Selepas Setasiun Klender, lampu KLB dinyalakan kembali dan kereta api melaju dengan kecepatan maksimum 90 km per jam. Pada pukul 20 KLB berhenti diStasiun Cikampek. Pada pukul 01 tanggal4 Januari1946KLB berheti diStasiun Purwokerto, dan kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba pada pukul 07 diStasiun Yogyakarta[5].Diplomasi SyahrirTanggal10 Februari1946, pemerintah Belanda membuat pernyataan memperinci tentang politiknya dan menawarkan mendiskusikannya dengan wakil-wakil Republik yang diberi kuasa. Tujuannya hendak mendirikan persemakmuran Indonesia, yang terdiri dari daerah-daerah dengan bermacam-macam tingkat pemerintahan sendiri, dan untuk menciptakan warga negara Indonesia bagi semua orang yang dilahirkan di sana. Masalah dalam negeri akan dihadapi dengan suatu parlemen yang dipilih secara demokratis dan orang-orang Indonesia akan merupakan mayoritas. Kementerian akan disesuaikan dengan parlemen tetapi akan dikepalai oleh wakil kerajaan. Daerah-daerah yang bermacam-macam di Indonesia yang dihubungkan bersama-sama dalam suatu susunan federasi dan persemakmuran akan menjadi rekan (partner) dalam Kerajaan Belanda, serta akan mendukung permohonan keanggotaan Indonesia dalam organisasiPBB.Pada bulan April dan Mei1946, Sjahrir mengepalai delegasi kecil Indonesia yang pergi berunding denganpemerintah Belanda diHoge Veluwe. Lagi, ia menjelaskan bahwa titik tolak perundingan haruslah berupa pengakuan atas Republik sebagai negara berdaulat. Atas dasar itu Indonesia baru mau berhubungan erat dengan Kerajaan Belanda dan akan bekerja sama dalam segala bidang. Karena itu Pemerintah Belanda menawarkan suatu kompromi yaitu: "mau mengakui Republik sebagai salah satu unit negara federasi yang akan dibentuk sesuai dengan Deklarasi 10 Februari".Sebagai tambahan ditawarkan untuk mengakui pemerintahande factoRepublik atas bagianJawadanMadurayang belum berada di bawah perlindungan pasukanSekutu. KarenaSjahrirtidak dapat menerima syarat-syarat ini, konferensi itu bubar dan ia bersama teman-temannya kembali pulang.Tanggal17 Juni1946,Sjahrirmengirimkansurat rahasiakepadavan Mook, menganjurkan bahwa mungkin perundingan yang sungguh-sungguh dapat dimulai kembali. Dalam surat Sjahrir yang khusus ini, ada penerimaan yang samar-samar tentang gagasanvan Mook mengenai masa peralihan sebelum kemerdekaan penuh diberikan kepada Indonesia; ada pula nada yang lebih samar-samar lagi tentang kemungkinan Indonenesia menyetujui federasi Indonesia - bekas Hindia Belanda dibagi menjadi berbagai negara merdeka dengan kemungkinan hanya Republik sebagai bagian paling penting. Sebagai kemungkinan dasar untuk kompromi, hal ini dibahas beberapa kali sebelumnya, dan semua tokoh politik utama Republik mengetahui hal ini.Tanggal17 Juni1946, sesudah Sjahrir mengirimkan surat rahasianya kepada van Mook, surat itu dibocorkan kepada pers oleh surat kabar di Negeri Belanda. Pada tanggal24 Juni1946,van Mookmengirim kawat keDen Haag: "menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, usul balasan (yakni surat Sjahrir) tidak disetujui oleh Soekarno dan ketika dia bertemu dengannya, dia marah. Tidak jelas, apa arah yang akan diambil oleh amarah itu". Pada waktu yang sama, surat kabar Indonesia menuntut dijelaskan desas-desus tentang Sjahrir bersedia menerima pengakuande factoRepublik Indonesia terbatas pada Jawa dan Sumatra.Penculikan terhadap PM SyahrirArtikel utama untuk bagian ini adalah:Penculikan Perdana Menteri SjahrirTanggal27 Juni1946, dalam Pidato Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Wakil PresidenHattamenjelaskan isi usulan balasan di depan rakyat banyak di alun-alun utamaYogyakarta, dihadiri olehSoekarnodan sebagian besar pucuk pimpinan politik. Dalam pidatonya, Hatta menyatakan dukungannya kepadaSyahrir, akan tetapi menurut sebuah analisis, publisitas luas yang diberikan Hatta terhadap surat itu, menyebabkan kudeta dan penculikan terhadap Syahrir.Pada malam itu terjadiperistiwa penculikan terhadap Perdana Menteri Syahrir, yang sudah terlanjur dicap sebagai "pengkhianat yang menjual tanah airnya". Syahrir diculik diSurakarta, ketika iaberhenti dalam perjalanan politik menelusuri Jawa. Kemudian ia dibawa keParas, desa dekat Boyolali, di rumah peristirahatan Pracimoharjo, peninggalan SunanPakubuwono X, dan ditahan di sana dengan pengawasan komandan batalyon setempat.Pada malam tanggal28 Juni1946,Ir Soekarnoberpidato di radioYogyakarta. Ia mengumumkan, "Berhubung dengan keadaan di dalam negeri yang membahayakan keamanan negara dan perjuangan kemerdekaan kita, saya, Presiden Republik Indonesia, dengan persetujuan Kabinet dan sidangnya pada tanggal28 Juni1946, untuk sementara mengambil alih semua kekuasaan pemerintah". Selama sebulan lebih,Soekarnomempertahankan kekuasaan yang luas yang dipegangnya. Tanggal3 Juli1946,Sjahrirdibebaskan dari penculikan; namun baru tanggal14 Agustus1946, Sjahrir diminta kembali untuk membentuk kabinet.Kembali menjadiPMTanggal2 Oktober1946,Sjahrirkembali menjadiPerdana Menteri, Sjahrir kemudian berkomentar, "Kedudukan saya dikabinet ketigadiperlemah dibandingkan dengankabinet keduadanpertama. Dalamkabinet ketigasaya harus berkompromi denganPartai Nasional IndonesiadanMasyumi... Saya harusmemasukkan orang sepertiGanidanMaramislewatSoekarno; saya harus menanyakan pendapatnya dengan siapa saya membentuk kabinet."Konferensi Malino - Terbentuknya "negara" baruArtikel utama untuk bagian ini adalah:Konferensi MalinoBulan Juni 1946 suatu krisis terjadi dalam pemerintahan Republik Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah mengusai sebelah Timur Nusantara. Dalam bulan Juni diadakan konferensi wakil-wakil daerah diMalino, Sulawesi, di bawah Dr. Van Mook dan minta organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Timur Raya.1946-1947Peristiwa WesterlingArtikel utama untuk bagian ini adalah:Pembantaian WesterlingPembantaian Westerlingadalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil diSulawesi Selatanyang dilakukan oleh pasukan BelandaDepot Speciale TroepenpimpinanWesterling. Peristiwa ini terjadi pada Desember1946-Februari1947selama operasi militerCounter Insurgency(penumpasan pemberontakan).Perjanjian LinggarjatiArtikel utama untuk bagian ini adalah:Perundingan LinggarjatiBulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usahalain untuk memecah halangan dengan menunjuk tigaorang Komisi Jendral datang keJawadan membantuVan Mookdalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khususInggris,Lord Killearn. Bertempat di bukitLinggarjatidekatCirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutamaInggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal15 November1946yang pokok pokoknya sebagai berikut:*.Belanda mengakui secarade factoRepublik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputiSumatra,JawadanMadura.Belandaharus meninggalkan wilayahde factopaling lambat1 Januari1949.*.Republik Indonesia danBelandaakan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat dengan namaRepublik Indonesia Serikatyang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia.*.Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.Untuk iniKalimantandan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain.Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagianUni Indonesia-Belandabersama denganBelanda,Surinamedan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewatarbitrase.Kedua delegasi pulang keJakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal15 November1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmiPerundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres.Peristiwa yang terjadi terkait dengan hasil Perundingan LinggarjatiParadeTentara Republik Indonesia(TRI) diPurwakarta,Jawa Barat, pada tanggal17 Januari1947.Pada bulan Februari dan Maret 1947 di Malang,S M Kartosuwiryoditunjuk sebagai salah seorang dari limaanggota Masyumi dalam komite Eksekutif, yang terdiri dari 47 anggota untuk mengikuti sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), dalam sidang tersebut membahas apakah Persetujuan Linggarjati yang telah diparaf oleh Pemerintah Republik dan Belanda pada bulan November 1946 akan disetujui atau tidak Kepergian S M Kartosoewirjo ini dikawal oleh para pejuang Hizbullah dari Jawa Barat, karena dalam rapat tersebut kemungkinan ada dua kubu yang bertarung pendapat sangat sengit, yakni antara sayap sosialis (diwakili melalui partai Pesindo), dengan pihak Nasionalis-Islam (diwakili lewat partai Masyumi dan PNI). Pihak sosialis ingin agar KNPI menyetujui naskah Linggarjati tersebut, sedang pihak Masyumi dan PNI cenderung ingin menolaknya Ketika anggota KNIP yang anti Linggarjati benar-benar diancam gerilyawan Pesindo, Sutomo (Bung Tomo) meminta kepada S M Kartosoewirjo untuk mencegah pasukannya agar tidak menembaki satuan-satuan Pesindo.Dr. H. J. van Mook, kepala Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, dengan gigih memecah RI yang tinggal tiga pulau ini. Bahkan sebelum naskah itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, ia telah memaksa terwujudnyaNegara Indonesia Timur, denganTjokorda Gde Raka Soekawatisebagai presiden, lewatKonferensi Denpasartanggal 18 - 24 Desember 1946.Pada bulan tanggal 25 Maret 1947 hasil perjanjian Linggarjati ditandatangani di Batavia. Partai Masyumi menentang hasil perjanjian tersebut, banyak unsur perjuang Republik Indonesia yang tak dapat menerima pemerintah Belanda merupakan kekuasaan berdaulat di seluruh Indonesia. Dengan seringnya pecah kekacauan, maka pada praktiknya perjanjian tersebut sangat sulit sekali untuk dilaksanakan.Proklamasi Negara PasundanUsaha Belanda tidak berakhir sampai di NIT. Dua bulan setelah itu, Belanda berhasil membujuk Ketua Partai Rakyat Pasundan, Soeria Kartalegawa, memproklamasikan Negara Pasundan pada tanggal 4 Mei 1947. Secara militer negara baru ini sangat lemah, ia benar benar sangat tergantung pada Belanda, tebukti ia baru eksis ketika Belanda melakukan Agresi dan kekuatan RI hengkang dari Jawa Barat.Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara Pasundan itu memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk mempertahankan pasukan ini makapihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa (khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).Agresi Militer IArtikel utama untuk bagian ini adalah:Agresi Militer IPada tanggal27 Mei1947,Belandamengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari, yang berisi:1.Membentuk pemerintahan ad interim bersama;2.Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;3.Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerahdaerah yang diduduki Belanda;4.Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); dan5.Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan eksporPerdana MenteriSjahrirmenyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari kalanganparpol-parpol di Republik.Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba,Belanda terus "mengembalikan ketertiban" dengan"tindakan kepolisian". Pada tanggal20 Juli1947tengah malam (tepatnya21 Juli1947) mulailah pihakBelandamelancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama.Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekalidimanamereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947 dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya dia sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. Dan bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya tidak menyukai 'aksipolisional' tersebut serta menggiring Belanda untuk segera menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.Naiknya Amir Syarifudin sebagai Perdana MenteriSetelah terjadinyaAgresi Militer Belanda Ipada bulan Juli, penggantiSjahriradalahAmir Syarifudinyang sebelumnya menjabat sebagaiMenteri Pertahanan. Dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, dia menggaet anggotaPSIIyang dulu untuk duduk dalamKabinetnya. Termasuk menawarkan kepadaS.M. Kartosoewirjountuk turut serta duduk dalam kabinetnya menjadi Wakil Menteri Pertahanan kedua. Seperti yang dijelaskan dalam sepucuk suratnya kepadaSoekarnodanAmir Syarifudin,diamenolak kursi menteri karena "ia belum terlibat dalam PSII dan masih merasa terikat kepada Masyumi".S.M. Kartosoewirjomenolak tawaran itu bukan semata-mata karena loyalitasnya kepadaMasyumi. Penolakan itu juga ditimbulkan oleh keinginannya untuk menarik diri dari gelanggang politik pusat. Akibat menyaksikan kondisi politik yang tidak menguntungkan bagi Indonesia disebabkan berbagai perjanjian yang diadakan pemerintah RI denganBelanda. Di samping ituKartosoewirjotidak menyukaiarah politikAmir Syarifudinyang kekiri-kirian. Kalaudilihat dari sepak terjangAmir Syarifudinselama manggung di percaturan politik nasional dengan menjadiPerdana Menterimerangkap Menteri Pertahanan sangat jelas terlihat bahwaAmir Syarifudiningin membawa politik Indonesia ke arahKomunis.1948Perjanjian RenvilleArtikel utama untuk bagian ini adalah:Perjanjian RenvilleSementara peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakanAustraliadanIndia, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal1 Agustus1947, dan segera setelah itu mendirikan suatuKomisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan itu .Tanggal17 Januari1948berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika Serikat, Renville, ternyatamenghasilkan persetujuan lain, yang bisa diterima oleh yang kedua belah pihak yang berselisih. Akan terjadi perdamaian yang mempersiapkan berdirinya zone demiliterisasi Indonesia Serikat akan didirikan, tetapi atas garis yang berbeda dari persetujuan Linggarjati, karena plebisit akan diadakan untuk menentukan apakah berbagai kelompok di pulau-pulau besar ingin bergabung dengan Republik atau beberapa bagian dari federasi yang direncanakan Kedaulatan Belanda akan tetap atas Indonesia sampai diserahkan pada Indonesia Serikat.Pada tanggal 19 Januari ditandatangani persetujuan Renville Wilayah Republik selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkanlebih terbatas lagi ketimbang persetujuan Linggarjati: hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah (Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah Republik Plebisit akan diselenggarakan untuk menentukan masa depan wilayah yang baru diperoleh Belanda lewat aksi militer. Perdana menteri Belanda menjelaskan mengapa persetujuan itu ditandatangani agar Belanda tidak "menimbulkan rasa benci Amerika".Sedikit banyak, ini merupakan ulangan dari apa yangterjadi selama dan sesudah perundingan Linggarjati. Seperti melalui persetujuan Linggarjati, melalui perundingan Renville, Soekarno dan Hatta dijadikan lambang kemerdekaan Indonesia dan persatuan Yogyakarta hidup lebih lama, jantung Republik terus berdenyut. Ini kembali merupakan intikeuntungan Seperti sesudah persetujuan Linggarjati, pribadi lain yang jauh dari pusat kembalidiidentifikasi dengan persetujuan -dulu Perdana Menteri Sjahrir, kini Perdana Menteri Amir- yang dianggap langsung bertanggung jawab jika sesuatu salah atau dianggap salah.Runtuhnya Kabinet Amir dan naiknya Mohammad Hatta sebagai Perdana MenteriDari adanyaAgresi Militer Idengan hasil diadakannyaPerjanjian Renvillemenyebabkan jatuhnyaKabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalamkabinetnyayang terdiri dari anggotaPNIdanMasyumimeletakkan jabatan ketikaPerjanjian Renvilleditandatangani, disusul kemudianAmirsendiri meletakkan jabatannya sebagaiPerdana Menteripada tanggal23 Januari1948. Dengan pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketikaSoekarnoberpalingke arah lain dengan menunjukHattauntuk memimpin suatu'kabinet presidentil' darurat(1948-1949),dimanaseluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepadaSoekarnosebagaiPresiden.Dengan terpilihnyaHatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orangPNI,Masyumi, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai.Amirdan kelompoknya darisayap kirikini menjadi pihakoposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikutSjahrirmempertegasperpecahan mereka dengan pengikut-pengikutAmirdengan membentuk partai tersendiri yaituPartai Sosialis Indonesia(PSI), pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintahHatta.Memang runtuhnya Amir datang bahkan lebih cepat ketimbang Sjahrir, enam bulan lebih dulu Amir segera dituduh -kembali khususnya oleh Masyumi dan kemudian Partai Nasional Indonesia- terlalu banyak memenuhi keinginan pihak asing. Hanya empat hari sesudahPerjanjian Renvilleditandatangani, pada tanggal23 Januari1948,Amir Syarifudindan seluruhkabinetnyaberhenti.Kabinet barudibentuk dan susunannya diumumkan tanggal29 Januari1948.HattamenjadiPerdana Menterisekaligus tetap memangku jabatan sebagaiWakil Presiden.Tampaknya kini lebih sedikit jalan keluar bagiAmirdibanding denganSjahrirsesudahPerundingan Linggarjati; dan lebih banyak penghinaan. Beberapa hari sesudahAmirberhenti, di awal Februari 1948,HattamembawaAmirdan beberapa pejabat Republik lainnya mengelilingiProvinsi.Amirdiharapkan menjelaskanPerjanjian Renville. Pada rapat raksasa diBukittinggi,Sumatera Barat, di kota kelahiran Hatta -dan rupanya diatur sebagai tempat berhenti terpenting selama perjalanan-Hattaberbicara tentang kegigihan Republik, dan pidatonya disambut dengan hangat sekali.KemudianAmirnaik mimbar, dan seperti diuraikanHattakemudian: "Dia tampak bingung, seolah-olah nyaris tidak mengetahui apa ayang harus dikatakannya. Dia merasa bahwa orang rakyat Bukittinggi tidak menyenanginya, khususnya dalam hubungan persetujuan denganBelanda. Ketika dia meninggalkan mimbar, hampir tidak ada yang bertepuk tangan"Menurut peserta lain: "Wajah Amir kelihatannya seperti orang yang sudah tidak berarti".Sjahrirjuga diundang ke rapat Bukittinggi ini; dia datang dariSingapuradan berpidato. Menurut Leon Salim -kaderlama Sjahrir- "Sjahrir juga kelihatan capai dan jarang tersenyum". Menurut kata-kata saksi lain, "Seolah-olah ada yang membeku dalam wajah Sjahrir" dan ketika gilirannya berbicara "Dia hanya mengangkat tangannya dengan memberi salam Merdeka dan mundur". Hatta kemudian juga menulis dengan singkat tentang pidato Sjahrir: "Pidatonya pendek". Dipermalukan seperti ini, secarapsikologis amat mungkin menjadi bara dendam yang menyulut Amir untuk memberontak di kemudian hari.Perjanjian Renvilletidak lebih baik daripadaperundingan di Linggarjati. Kedua belah pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, danIndonesiamenuduhBelandamendirikanblokadedengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli1948,Komisi Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan persetujuan itu, melaporkan bahwaIndonesiamengeluh akan gencatan senjata yang berulang-ulang.1948-1949Agresi Militer IIArtikel utama untuk bagian ini adalah:Agresi Militer IIAgresi Militer IIterjadi pada19 Desember1948yang diawali dengan serangan terhadapYogyakarta,ibu kotaIndonesiasaat itu, serta penangkapanSoekarno,Mohammad Hatta,Sjahrirdan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknyaPemerintah Darurat Republik IndonesiadiSumatrayang dipimpin olehSjafruddin Prawiranegara.Serangan Umum 1 Maret 1949 atas YogyakartaArtikel utama untuk bagian ini adalah:Serangan Umum 1 MaretSerangan yang dilaksanakan pada tanggal1 Maret1949terhadap kotaYogyakartasecara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III -dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat- berdasarkan instruksi dari Panglima BesarSudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI -berarti juga Republik Indonesia- masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moralpasukanBelandaserta membuktikan pada duniainternasionalbahwaTentara Nasional Indonesia(TNI)masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.Soehartopada waktu itu sebagai komandanbrigade X/Wehrkreis IIIturut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayahYogyakarta.Perjanjian Roem RoyenArtikel utama untuk bagian ini adalah:Perjanjian Roem RoyenAkibat dariAgresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari pihakAmerika Serikatyang mengancam akan menghentikan bantuannya kepadaBelanda, akhirnya dengan terpaksaBelandabersedia untuk kembali berunding dengan RI. Pada tanggal7 Mei1949,Republik IndonesiadanBelandamenyepakatiPerjanjian Roem Royen.Serangan Umum SurakartaArtikel utama untuk bagian ini adalah:Serangan Umum SurakartaSerangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yangberjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Serangan itu menyadarkanBelandabila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal sepertiSlamet Riyadi.Konferensi Meja BundarArtikel utama untuk bagian ini adalah:Konferensi Meja BundarKonferensi Meja Bundaradalah sebuah pertemuan antara pemerintahRepublik IndonesiadanBelandayang dilaksanakan diDen Haag,Belandadari23 Agustushingga2 November1949. Yang menghasilkan kesepakatan:*.Belandamengakui kedaulatanRepublik Indonesia Serikat.*.Irian Baratakan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan.Penyerahan kedaulatan oleh BelandaBung HattadiAmsterdam,Belandamenandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan.Artikel utama untuk bagian ini adalah:Pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh BelandaBelanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada27 Desember1949, selang empat tahun setelahproklamasi kemerdekaan RIpada17 Agustus1945. Pengakuan ini dilakukan ketikasoevereiniteitsoverdracht(penyerahan kedaulatan) ditandatangani diIstana Dam,Amsterdam. DiBelandaselama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakuiIndonesiamerdeka pada tahun1945sama saja mengakui tindakanpolitionele acties(Aksi Polisionil) pada1945-1949adalahilegal.Referensi1.^"The War for Independence: 1945 to 1950". Gimonca. Diakses tanggal23 September2015.2.^Kirby, Woodburn S (1969).War Against Japan, Volume 5: The Surrender of Japan. HMSO. p. 258.3.^abhttp://www.1945-1950ubachsberg.nl/site/erevelden.htm4.^Friend, Bill personal comment 22 April 2004;Friend, Theodore (1988).Blue Eyed Enemy. Princeton University Press. pp. 228 and 237.ISBN 978-0-691-05524-4.; Nyoman S. Pendit,Bali Berjuang(2nd edn Jakarta:Gunung Agung, 1979 [original edn 1954]); Reid (1973), page 58,n.25, page 119,n.7, page 120,n.17, page 148,n.25 and n.37; Pramoedya Anwar Toer, Koesalah Soebagyo Toer and Ediati KamilKronik Revolusi Indonesia[Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, vol. I (1945); vol. II (1946) 1999; vol. III (1947); vol. IV (1948) 2003]; Ann Stoler,Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt, 1870–1979(New Haven:Yale University Press, 1985), p103.; all cited in Vickers (2005), page 1005.^abcdefgPamflet PT KAI menyambut ulang tahun PT KAI 2015, dipampangkan di Stasiun Yogyakarta6.^War for Independence: 1945 to 19507.^Bhayangkara Pewaris Gajah Mada, Kilas-balik sejarah POLRILihat pula